tempatnya orang gila

Selasa, 27 September 2011

BENTANG LAHAN KARST (Kaustic Landform)



BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bumi merupakan
satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh makhluk, dimana pada awal
pembentukannya berawal dari aktivitas dan pengaruh matahari, yang apada
akhirnya mengalami pembentukan dan evolusi sampai pada keadaan seperti sekarang
ini.
Bentukan alam di permukaan bumi
terjadi karena proses pembentukan tertentu melalui serangkaian evolusi tertentu
pula. Sehingga dlam setiap proses pembentukannya akan melibatkan tenaga dan
unsur-unsur tertentu, baik itu unsur yang bersifat fisik, biologis maupun
kimiawi tenaga endogen maupun tenaga eksogen yang bersifat membentuk dan
mengubah (merusak) bentuk permukaan bumi.




Secara
alami bumi mengalami pembentukan secara bertahap, dan memebentuk sebuah gugusan
permukaan yang terhampar luas yang memiliki kenampakan medan baik secara visula
mauoun secara fisik yang dapat dikatakan sebagai landform atau bentuk lahan. Yang kemudian akibat pengaruh kondisi
permukaan ( tenaga eksogen ) yang kemudian bergabung menjadi
Lanskap yang terdiri dari fitur yang terlihat
dari luas tanah, termasuk elemen-elemen fisik bentang alam seperti (es
tertutup) gunung, bukit, badan air seperti sungai, danau, kolam dan laut,
unsur-unsur hidup tutupan lahan, termasuk vegetasi asli, manusia unsur termasuk
berbagai bentuk penggunaan lahan, bangunan dan struktur, dan elemen fana
seperti pencahayaan dan kondisi cuaca.
Salah satu bentuk lahan yang paling
banyak di sekitar kita adalah bentuk lahan karst ( grup karst ) merupakan
landform yang didominasi oleh bahan batu gamping, pada
umumnya keadaan morfologi daerah ini tidak teratur. Landform ini dicirikan oleh
adanya proses pelarutan bahan batuan penyusun yaitu dengan terjadinya sungai di
bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit, stalagmit, dll.
Berdasarkan
penjelasan diatas, maka kami membuat makalah tentang bagaimana kondisi karst
dalam kaitannya dengan kajian  ilmu
geomorfologi. Untuk lebih mendalami mengenai karst dalam kaitannya sebagai
bagian dari bentuk lahan.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan kami dalam membuat makalah tentang bentuk lahan karst adalah untuk
memenuhi tugas dari dosen mata kuliah bersangkutan. Selain itu untuk lebih
menambah wawasan mengenai bentuk kahan karst serta untuk memberikan informasi
kepada mahasiswa yang lain bagaimana
bentuk lahan karst.
1.3 Rumusan Masalah
            Berdasarkan penjelasan diatas maka kami dapat merumuskan
masalahnya sebagai berikut:
1.    
Apa
itu karst ?
2.    
Bagaimana
proses pembentukan karst dalam konsep geomorfologi beserta jenisnya?
3.    
Bagaimana
sistem kehidupan dan potensi bentuk lahan, dan hidrologi  dari grup karst?




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bentuk Lahan Karst
       Landform yang didominasi oleh bahan batu gamping, pada umumnya keadaan
morfologi daerah ini tidak teratur. Landform ini dicirikan oleh adanya proses
pelarutan bahan batuan penyusun yaitu dengan terjadinya sungai di bawah tanah,
gua-gua dengan stalagtit, stalagmit, dll
(www.wikipedia.com/karst).
ENREKANG KARST
        Karst adalah sebuah bentukan di permukaan
bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed
depression
),
drainase
permukaan
, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh
pelarutan
batuan, kebanyakan batu
gamping
. Istilah karst yang dikenal di
Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya
adalah krst / krast' yang merupakan
nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat
kota Trieste dengan Ciri-ciri daerah karst antara lain
sebagai
berikut
 :

1. Daerahnya
berupa cekungan-cekungan
2. Terdapat
bukit-bukit kecil
3. Sungai-sungai yang nampak
dipermukaan hilang dan terputus ke
dalam tanah.
4. Adanya sungai-sungai di bawah
permukaan tanah
5. Adanya endapan sedimen lempung
berwama merah hasil dari pelapukan batu
gamping.
6. Permukaan yang terbuka nampak kasar,
berlubang-lubang dan runcing.
               Perkembangan bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu
tempat ke tempat lain. Variasi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang
mengontrol perkembangannya, seperti  batuan, struktur geologi, vegetasi,
dan iklim.
               Faktor-faktor tersebut secara
bersama-sama menentukan intensitas dan kecepatan karstifikasi. Hasil dari
proses karstifikasi tersebut adalah bentuklahan karst.
               Bentuk lahan kawasan karst memiliki karakteristik berupa
bentukan negative yang tertutup dengan berbagai ukuran dan susunan, pola
drainase yang terputus–putus, gua–gua dan aliran sungai bawah tanah. Bentukan
alam permukaan kawasan karst sangat beragam dan tiap daerah memiliki ciri atau
bentukan yang berbeda. Ada yang berbentuk seperti menara atau disebut Tower Karst,
ada yang berbentuk Cawan Terbalik atau biasa disebut Conical Hill. Antara
bukit–bukit Karst Tower dan Conical bisa terlihat lembah–lembah yang lebar atau
sempit. Bukit–bukit tersebut terkadang terpisah oleh suatu dataran yang luas
akan tetapi terkadang juga ada yang saling berdempetan dengan bentuk yang
simetris atau asimetris dengan tinggi yang relative hampir sama.
               Kawasan Karst yang belum dijamah oleh manusia (Agraris dan
Pertambangan) biasanya masih tertutup Vegetasi yang lebat bahkan bisa tidak terlihat
dari kejauhan bahwa daerah tersebut adalah daerah karst. Terkecuali Vegetasi
tersebut telah dibabat oleh aktivitas manusia seperti, Pertanian, Pertambangan,
Penebangan Liar. Vegetasi kawasan karst juga bisa habis akibat gerakan Gletser
yang menerjang kawasan tersebut beberapa juta tahun yang lalu. Akibat dari
aktivitas tersebut maka timbullah penggundulan dan pengikisan permukaan karst
(Anonim,
2011).
               Perkembangan bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu
tempat ke tempat lain. Variasi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang
mengontrol perkembangannya, seperti  batuan, struktur geologi, vegetasi,
dan iklim. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama menentukan intensitas dan
kecepatan karstifikasi. Hasil dari proses karstifikasi tersebut adalah
bentuklahan karst.
·       
Bentuklahan
karst makro
Morfologi karst makro di suatu
wilayah dapat meliputi beberapa kombinasi dari bentukan negatif berupa dolin,
uvala, polje, atau ponor; dan bentukan positif berupa kegel, mogote, atau
pinacle (Sweeting, 1972, Trudgil, 1985; White, 1988; dan Ford dan williams,
1996).
·       
Bentuklahan
karst mikro
Morfologi mikro daerah karst dalam
literatur dan artikel karst diistilahkan dengan karren (bahasa Jerman)
atau lapies (bahasa Prancis).  Dimensi karren bervariasi dari 1
hingga 10 meter, sedangkan mikro karen mempunyai demensi kurang dari 1 cm (Ford
dan Williams, 1996). Karren dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok,
yaitu bentuk membulat, bentuk memanjang yang terkontrol oleh kekar, bentuk
linier yang terkontrol proses hidrolik, dan bentuk poligonal.
2.2 Proses Pembentukan Karst
       Daerah karst terbentuk oleh
pelarutan batuan terjadi di
litologi lain, terutama batuan
karbonat
lain
misalnya
dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya
cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli
.
       Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus
tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk
lahan yang cocok adalah
pseudokarst (karst palsu).
       Bentuk lahan
solusional mempunyai karakteristik relief dan drainase alami yang spesifik
karena proses solusi/pelarutan pada batuan yang mudah larut seperti
batugamping. Beberapa ciri kenampakan solusional antara lain : alur-alur dan
igir pelarutan yang banyak mengandung kapur (CaCO3), lapies,
solusional pits, facets, flutes dan runnels berupa aliran-aliran bawah tanah
atau gua-gua kapur dengan stalagtit dan stalagmit.
            Bentuklahan yang berkembang pada
satuan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik litologi dan kondisi iklimnya.
Proses pelarutan akan meninggalkan bekas berupa kubah-kubah gamping yang
membulat teratur dan seragam, dan terbentuk lubang-lubang drainase atau
porositas berupa doline atau polye yang menyatu dengan aliran bawah tanah.
Retakan yang intensif akan mengakibatkan konsentrasi infiltrasi dan kelurusan
dari sinkhole sepanjang retakan.
          
Karakteristik yang dapat dilihat dari foto udara umumnya berupa bentukan dengan
topografi kasar, banyak bulatan-bulatan kubah sisa pelarutan yang mempunyai
pola teratur, aliran-aliran sungai tidak teratur dan terpotong/menghilang
akibat masuk dalam ponor infiltrasi menuju sungai bawah tanah, rona cerah dan
banyak bercak-bercak kehitaman, vegetasi jarang dan lahan belum banyak
dimanfaatkan. Sistem retakan dan patahan sering banyak dijumpai akibat
pengangkatan material dari dasar laut ke permukaan membentuk perbukitan/
pegunungan (berdasar genesanya). 

PROFIL BENTUK LAHAN KARST
Bentuk lahan karst
tersebut mempunyai pengaruh terhadap air dan dipengaruhi air, sehingga kekhasan
dari geomorfologi dari suatu lingkungan karst dapat dijadikan dasar untuk
memperkirakan kondisi tata airnya. Sumber air di lingkungan karst perlu
diketahui karakteristiknya, agihan jumlahnya, dan kualitas menurut ruang dan
waktu.

2.3  Sistem
Kehidupan dan Potensi Bentuk Lahan Dari Grup Karst
Indonesia
mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan
karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan
dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena
keunikannya.
Batu gamping sebagai salah satu bahan baku pembuatan semen,
dengan eksplorasi yang tidak bijaksana, lambat laun warisan dunia yang unik dan
terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita
kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya
.
Mengenai sistem kehidupan Karst, ekosistem karst memiliki keunikan,
baik secara
fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman
hayati
. Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan.
Baru beberapa jenis
udang gua (Macrobrachium
poeti
), kalajengking gua dari Maros (Chaerilus
sabinae
),
kepiting
gua buta
(Cancrocaeca
xenomorpha
),
kepiting
mata kecil
(Sesarmoides
emdi
), isopoda gua (
Cirolana
marosina
),
Anthura
munae
, kumbang
gua
(Eustra saripaensis), Mateullius
troglobiticus
, Speonoterus bedosae,
ekorpegas
gua
(Pseudosinella
maros
), Stenasellus
covillae
, S. stocki, S. monodi, dan S. javanicus dari
karst Cibinong
.
Dan salah satu
yang paling umum dilihat dari sistem kehidupan karst adalah dengan adanya gua.
Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan
keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam terbuka. Di tengah kegelapan
abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua (
speleothem ). Proses ini disebabkan karena a ir tanah yang menetes dari atap
gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya. Dalam rangka
mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini
menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan
melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh
kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap.
Berbagai ornamen gua yang sering di jumpai yaitu Stalaktit( stalactite),Stalagmit,(stalagmite)Tiang(column)Tirai, (draper Teras-teras travertine, Geode (batu permata.
Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan
relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan
kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar
matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas
sistem perguaan tersebut. Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya
dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda
dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari
sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya
seluas sistem perguaan tersebut.
Potensi Kawasan Karst
·       
Penambangan
Batu Gamping di Kawasan Karst
Kawasan karst merupakan bentang alam
yang unik dan langka. Karena terbentuk dengan proses yang berlangsung lama dan
hanya di jumpai pada daerah-daerah tertentu, sudah barang tentu kawasan karst
menjadi obyek eksplorasi dan eksploitasi manusia yang tidak pernah merasa puas.
   Secara umum kawasan karst mempunyai berbagai potensi yang
bermanfaat antara lain :
§  Potensi Ekonomi
§  Potensi Sosial
§  Potensi Ilmu Pengetahuan
·       
Potensi Ekonomi
Obyek wisata Gua Jatijajar di Kab.
Kebumen Jateng
, maros gua leang-leang. Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat
manusia berusaha untuk bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan
karst sudah lama dijadikan manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian,
kawasan karst juga tempat untuk pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan,
penambangan batu gamping, penambangan guano (kotoran kelelawar), penyediaan air
bersih, air irigasi dan perikanan, serta kepariwisataan.Salah satu pemanfaatan
yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan menggunakan bahan
peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet).Pemanfaatan
yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu
berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut.
·       
Potensi Sosial

Cerita Mitos Di Gua jatijajar
Nilai sosial-budaya kawasan karst
selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai spiritual/religius,
estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang
digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara
manusia dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan
keyakinan masyarakat dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua.
Hubungan antara manusia dan alam disekitarnya pada dasarnya akan memberikan
pelajaran kepada manusia bagaimana melestarikan alam dan dekat dengan Sang
Penciptanya.
·       
Potensi Ilmu Pengetahuan

Penelitian sumber Daya Hayati di dalam
gua
Kawasan karst dapat menjadi obyek
kajian yang menarik bagi berbagai disiplin ilmu antara lain: geologi,
geomorfologi, hidrologi, biologi, arkeologi dan karstologi. Masing-masing
disiplin ilmu tersebut mempunyai ketertarikan terhadap kawasan karst karena
kandungan fenomenanya sangat berbeda dengan kawasan lain di permukaan bumi ini.
Fenomena abiotik, biotik di atas permukaan dan di bawah permukaan kawasan karst
masih belum banyak yang terungkap. Kawasan karst masih mengandung berbagai
tantangan ilmiah dari berbagai sudut ilmu pengetahuan
.
Hidrologi
Karst
                   Akuifer Karst
       Akuifer dapat diartikan sebagai
suatu formasi geologi yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah dalam
jumlah yang cukup pada kondisi hidraulik gradien tertentu (Acworth, 2001).
Cukup artinya adalah mampu mensuplai suatu sumur ataupun mata air pada suatu
periode tertentu. Dapatkah formasi karst yang didominasi oleh batuan karbonat
disebut sebagai suatu akuifer?. Jawaban dari pertanyaan ini dapat kita
kembalikan dari definisi akuifer seperti yang telah disebutkan di atas. Jika
formasi karst dapat menyimpan dan mengalirkannya sehingga sebuah sumur atau
mataair mempunyai debit air yang cukup signifikan, maka sah-sah saja jika
formasi karst tersebut disebut sebagai suatu akuifer. Perdebatan mengenai hal
ini sudah terjadi terutama pada masa-masa lampau dan solusi yang ada biasanya
tergantung dari sudut hidrogeologis mana kita memandangnya. Selanjutnya, dua
hal ekstrim pada akuifer karst adalah adanya sistem conduit dan diffuse yang
hampir tidak terdapat pada akuifer jenis lain (White, 1988). Ada kalanya suatu
formasi karst didominasi oleh sistem conduit  dan ada kalanya pula tidak
terdapat lorong-lorong conduit tetapi lebih berkembang sistem diffuse, sehingga
hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap sirkulasi airtanah karst.
Tetapi, pada umumnya suatu daerah karst yang berkembang baik mempunyai
kombinasi dua element tersebut.
Air
Tanah Daerah Karst.
Sistem
hidrologi daerah karst secara umum bersifat impermeabel, tetapi karena terdapat
celah dan rekahan maka batuan menjadi impermeabel (atau bisa disebut permeabilitas
skunder), dengan demikian air hujan dapat masuk ke dalam batuan, membentuk
rekahan-rekahan yang melebar, terbentuk gua-gua dan menyatu antara rekahan satu
dengan yang lain akhirnya terjadilah sungai bawah tanah.
Proses
hidrologi karst dimulai dari pelebaran celah-celah dan rekahan-rekahan oleh
proses pelarutan air hujan terhadap batuan kalsium karbonat. Variasi larutan
dapat sangat lambat sampai cepat, yang sangat tergantung adanya CO2
dalam tanah. Bentukan awal yang terjadi adalah Sinkhole (Doline =
luweng) terutama di persilangan rekahan. Jika doline berdekatan akan membentuk
uvala, karena sudah terjadi amblesan batu gamping pada musim hujan doline dan
uvala akan terisi air (menjadi telaga) yang merupakan sumber air permukaan
daerah karst.
Air
tanah karst secara kulitatif tentunya mempunyai kualitas yang umumnya baik.
Sebagian besar sumber air tanah karst ini digunakan oleh masyarakat sebagai
sumber air minum.Umumnya kualitas air tanah karst mempunyai konsentrasi unsur
Ca (kalsium), Mg (magnesium), dan kesadahan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan
komposisi mineral batuan karbonat yang memang didominasi Ca dan Mg. Oleh karena
itu sumber air ini bila digunakan sebagai air minum sebaiknya diendapkan
terlebih dahulu agar konsentrasi dua unsur tersebut dapat berkurang. Efek dari
penggunaan air yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi dapat mengakibatkan
terganggunya kerja ginjal. Pencemaran air tanah karst dapat terjadi terutama
berasal dari daerah imbuhannya, misalnya dari kotoran kelelawar dalam gua,
penebangan tanaman, penambangan batu gamping dan lainnya.













slah satu bentuk karst di kab. enrekang
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan diatas maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Karst adalah sebuah bentukan di permukaan
bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed
depression
),
drainase
permukaan
, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh
pelarutan
batuan, kebanyakan batu
gamping
2.      Bentuklahan yang berkembang pada
satuan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik litologi dan kondisi iklimnya.
Proses pelarutan akan meninggalkan bekas berupa kubah-kubah gamping yang
membulat teratur dan seragam, dan terbentuk lubang-lubang drainase atau
porositas berupa doline atau polye yang menyatu dengan aliran bawah tanah.
Retakan yang intensif akan mengakibatkan konsentrasi infiltrasi dan kelurusan
dari sinkhole sepanjang retakan.
3.    
Perkembangan
bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Variasi
tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang mengontrol perkembangannya,
seperti  batuan, struktur geologi, vegetasi, dan iklim
. Dan kemudian
hasil dari proses tersebut membagi bentuk lahan karst menjadi dua yaitu makro
dan mikro
4.    
Ekosistem
karst memiliki keunikan, baik secara
fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman
hayati
5.      Secara umum kawasan karst mempunyai
berbagai potensi yang bermanfaat antara lain :
·      Potensi Ekonomi
·      Potensi Sosial
·      Potensi Ilmu Pengetahuan
6.    
Sistem hidrologi daerah karst secara
umum bersifat impermeabel, tetapi karena terdapat celah dan rekahan maka batuan
menjadi impermeabel (atau bisa disebut permeabilitas s
ekunder.


DAFTAR PUSTAKA
Adji, T.N., Haryono, E., Suprojo. S.W., 1999. ,Kawasan
Karst dan Prospek Pengembangannya di Indonesia, Prosiding Seminar PIT
IGI
di Universitas Indonesia, 26-27 Oktober
1999

Anonim, 2011. Bentuk lahan
karst.
http://mamets-analisislansekap.blogspot.com. Diakses tanggal 20 september
Anonim, 2011. Bentuk lahan
karst.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karst. Diakses tanggal 20 september
Anonim,2011.Prosespembentukankarst.http://earthymoony.blogspot.com/2010/11/bentuklahan-asal-proses-solusional.html. Diakses tanggal 20 september.
Anonim, 2011. http://tjahyo-adji.staff.ugm.ac.id/buku_ajar_karst_indonesia.pdf. Diakses tanggal 20 september
Geomorfologi dan Hidrologi Karst
oleh Eko Haryono dan Tjahyo Nugroho Adji (Kelompok Studi Karst Fakultas
Geografi UGM)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting